8 Tips Menjaga Keikhlasan Ibadah Sepanjang Bulan Ramadhan

Senin, 23 Februari 2026 | 10:11:43 WIB
8 Tips Menjaga Keikhlasan Ibadah Sepanjang Bulan Ramadhan

JAKARTA - Menjalani ibadah Ramadhan sering kali terlihat khusyuk di ruang publik: masjid ramai, media sosial penuh konten kebaikan, dan semangat berlomba-lomba beramal terasa kuat. 

Namun, justru di tengah suasana yang ramai itulah keikhlasan diuji. Ibadah berpotensi bergeser menjadi rutinitas atau bahkan ajang pencitraan jika niat tidak terus dijaga. 

Karena itu, menjaga kemurnian niat selama Ramadhan bukan perkara sepele, melainkan fondasi agar setiap amal benar-benar bernilai di sisi Allah SWT.

Merujuk ebook Paham Hisab Muhammadiyah dan Tuntunan Ibadah Bulan Ramadan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, disebutkan bahwa keikhlasan sejati diuji saat ibadah dilakukan dalam kesunyian rumah. 

Hal ini selaras dengan prinsip syariah yang mengutamakan esensi penghambaan tanpa distraksi sosial. Ketulusan beribadah mandiri membuktikan bahwa orientasi utama mukmin hanyalah mencari rida Ilahi, bukan mengharap pujian manusia.

Hal ini sesuai dengan pandangan Imam Ash-Shan’aniy dalam kitab Subulus-Salam yang menekankan pentingnya tabyitun niyat (memalamkan niat) berdasarkan hadis riwayat Bukhari bahwa setiap amal bergantung pada niatnya. Dengan panduan tersebut, setiap individu dibimbing untuk meraih derajat takwa yang autentik.

Makna Ikhlas dalam Ibadah Ramadhan

Secara bahasa, ikhlas berarti membersihkan sesuatu dari kotoran. Dalam konteks ibadah, ikhlas adalah memurnikan niat hanya kepada Allah SWT. Bahwa ibadah tanpa keikhlasan bagaikan jasad tanpa ruh. 

Hal ini merujuk pada firman Allah: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus...” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Menurut Syekh Abu ‘Ali al-Daqqaq, keikhlasan adalah menjaga diri dari campur tangan makhluk. Sementara Zun Nun al-Misri merumuskan tiga tanda ikhlas: memandang sama antara pujian dan celaan, melupakan amal ketika beramal, serta mengesampingkan hak pribadi atas pahala karena orientasinya murni kepada Allah. Prinsip ini relevan di Ramadhan ketika aktivitas ibadah meningkat dan sorotan sosial lebih besar.

Niat sebagai Fondasi Ketulusan

Dalam Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan, Majelis Tarjih mencantumkan hadits fundamental tentang niat: “Dari Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya semua perbuatan ibadah harus dengan niat, dan setiap orang tergantung kepada niatnya…” (HR. al-Bukhari, Kitab al-Iman). Hadits ini menjadi landasan bahwa seluruh rangkaian ibadah Ramadhan, dari puasa, shalat tarawih, hingga zakat fitrah, harus dimulai dengan niat yang tulus karena Allah.

Tanpa niat, puasa tidak sah sebagaimana hadits riwayat Hafshah: “Barangsiapa tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR. al-Khamsah). Penegasan ini memperlihatkan bahwa dimensi batin ibadah tidak kalah penting dari pelaksanaan lahiriahnya.

Langkah Praktis Menjaga Keikhlasan

Berikut tips menjaga keikhlasan ibadah selama bulan suci Ramadhan agar lebih berkah:

1. Memperkuat Niat Sebelum Beramal

Dalam Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan ditegaskan bahwa niat puasa dilakukan di malam hari. Secara praktis, sebelum tidur sempatkan memperbarui niat. 

Saat sahur, sadari bahwa makan sahur adalah bentuk ketaatan. Ketika melangkah ke masjid untuk tarawih, luruskan orientasi ibadah hanya karena Allah.

2. Menjaga Lisan dari Perbuatan Tercela

Salah satu ancaman keikhlasan adalah merasa puas dengan ibadah lalu merendahkan orang lain. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan suka mengerjakannya, maka Allah tidak memandang perlu orang itu meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. al-Khamsah). Hindari debat tak produktif, perbanyak dzikir, dan ucapkan “Inni sha’im” saat dipancing emosi.

3. Melupakan Amal Kebaikan

Yusuf bin al-Hunain menyatakan betapa sulitnya menjaga ikhlas karena riya’ sering muncul kembali. Dalam Tafsir Maudhui Balitbang Diklat Kemenag RI, disebutkan langkah menuju ikhlas: melupakan perbuatan baik, menyadari segalanya milik Allah, dan istiqamah. Setelah bersedekah atau memberi takjil, jangan mengungkitnya di hadapan orang lain.

4. Menyamakan Pujian dan Celaan

Tanda ikhlas adalah memandang sama pujian dan celaan. Tetap semangat beribadah meski tidak dipuji, serta lapang dada jika ada kritik perbedaan praktik ibadah. Fokus pada penilaian Allah, bukan manusia.

5. Menjaga Ibadah Tetap dalam Koridor Sunnah

Semangat beramal perlu pemandu agar tidak meleset dari syariat. Pelajari tuntunan tarawih sesuai ajaran Nabi, ikuti panduan Majelis Tarjih, dan hindari ritual yang tidak berdasar.

6. Ibadah di Rumah Saat Kondisi Darurat

Beribadah di rumah ketika berjamaah tidak memungkinkan menjadi ujian keikhlasan. Tanpa suasana ramai, motivasi diuji apakah tetap konsisten.

7. Memperbanyak Sedekah Diam-Diam

Rasulullah lebih dermawan di Ramadhan. Utamakan sedekah sembunyi-sembunyi, atau jika terbuka, jaga hati dari riya’. Libatkan keluarga tanpa publikasi berlebihan.

8. Istiqamah hingga Akhir Ramadhan

Semangat sering mengendur di akhir bulan. Padahal Nabi bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Konsistensi menjadi tolok ukur ketulusan.

Landasan Dalil Menjaga Keikhlasan

Dalil Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa adalah takwa (QS. Al-Baqarah: 183), serta pentingnya sabar dan dzikir dalam menjaga konsistensi (QS. Al-Anfal: 45–46). 

Hadits tentang puasa “karena iman dan mengharap pahala” menunjukkan indikator keikhlasan sebagai inti nilai ibadah Ramadhan. Majelis Tarjih juga mengingatkan bahaya riya’ yang dapat menggugurkan nilai amal.

Terkini