JAKARTA - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak mentah.
Saat ini, cadangan minyak nasional hanya mampu bertahan selama 20–23 hari, jauh di bawah target strategis 90 hari atau tiga bulan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menuturkan bahwa langkah ini menjadi respons terhadap potensi gangguan pasokan global akibat konflik Timur Tengah yang terus memanas.
“Cadangan kita saat ini memang di atas standar minimal, tapi tidak cukup untuk menghadapi gejolak global yang panjang. Arahan Presiden adalah segera membangun storage tambahan agar cadangan bisa mencapai 90 hari,” ujar Bahlil.
Kapasitas Storage Saat Ini dan Keterbatasannya
Bahlil menjelaskan, kapasitas penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini maksimal hanya 25 hari. Cadangan BBM yang dikelola PT Pertamina (Persero) berada di kisaran 20–23 hari, tergolong aman untuk kondisi normal. Namun, jika terjadi gangguan pasokan global, kapasitas ini belum mencukupi.
“Kalau teman-teman menganggap harus stok 60 hari, masalahnya adalah mau ditempatkan di mana? Kita tidak memiliki storage yang cukup. Ini yang harus kita perbaiki dengan membangun fasilitas tambahan,” tambahnya.
Pemerintah pun menyiapkan rencana pembangunan storage baru, salah satunya di Sumatera, untuk menjawab kebutuhan kapasitas cadangan yang lebih besar.
Langkah Antisipatif Terhadap Pasokan Global
Seiring meningkatnya risiko konflik di Timur Tengah, pemerintah juga mengambil langkah antisipatif jangka pendek. Seluruh impor minyak mentah yang sebelumnya sebagian berasal dari Timur Tengah dialihkan ke Amerika Serikat dan negara lain di luar kawasan Selat Hormuz.
Saat ini, sekitar 25 persen total impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah, sementara sisanya dipasok dari Angola, AS, dan Brasil.
Bahlil menekankan, meski pasokan BBM nasional saat ini masih aman, risiko gangguan tetap ada jika konflik berlanjut dalam waktu lama. “Kalau perangnya lama, pasti akan berdampak terhadap pasokan energi global dan nasional. Itu sudah pasti,” ujarnya.
Dengan strategi diversifikasi sumber impor, pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasokan minyak nasional dalam jangka pendek hingga pembangunan storage baru rampung.
Peningkatan Kapasitas Storage untuk Ketahanan Energi
Peningkatan kapasitas storage menjadi langkah krusial untuk menyeimbangkan ketahanan energi dengan kebutuhan nasional yang terus meningkat.
Dengan fasilitas tambahan, cadangan minyak nasional dapat ditingkatkan hingga 90 hari, setara dengan tiga bulan pasokan. Fasilitas baru ini juga akan mendukung fleksibilitas pengelolaan stok BBM, termasuk menghadapi lonjakan permintaan atau gangguan pasokan sementara.
“Ini bukan sekadar cadangan, tapi juga strategi nasional. Kita membangun storage agar cadangan bisa mencapai 3 bulan, sehingga siap menghadapi berbagai skenario global,” tegas Bahlil.
Strategi ini sejalan dengan arahan Presiden untuk menjaga kedaulatan energi dan memastikan pasokan BBM nasional tetap stabil dalam jangka panjang.
Pentingnya Ketahanan Energi bagi Stabilitas Nasional
Langkah peningkatan kapasitas storage minyak tidak hanya relevan untuk kebutuhan energi, tetapi juga berperan dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sosial.
Ketahanan energi yang memadai akan mengurangi risiko lonjakan harga BBM akibat gangguan pasokan internasional dan mendukung kontinuitas sektor industri yang bergantung pada energi fosil.
Bahlil menegaskan, pembangunan storage tambahan dan diversifikasi impor merupakan kombinasi strategi untuk memitigasi risiko global sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan nasional. Dengan kapasitas cadangan yang lebih besar, Indonesia mampu menghadapi ketidakpastian pasokan minyak mentah dan menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat serta industri.
“Sekarang masalah utama bukan stok, tapi tempat menampung. Setelah storage terbangun, kita bisa mencapai target cadangan 90 hari sesuai arahan Presiden,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, strategi pemerintah untuk memperluas kapasitas storage dan mengalihkan sebagian impor minyak dari Timur Tengah menjadi langkah preventif untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Upaya ini tidak hanya menjamin pasokan BBM tetap stabil, tetapi juga menyiapkan Indonesia menghadapi risiko geopolitik dan fluktuasi pasar energi global.