JAKARTA - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah berakhirnya libur panjang Hari Raya Idulfitri.
Periode setelah libur biasanya menjadi momentum penting karena investor kembali aktif melakukan transaksi setelah jeda perdagangan beberapa hari.
Dalam situasi seperti ini, arah pergerakan pasar saham sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun global. Oleh karena itu, pelaku pasar biasanya mencermati berbagai sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan indeks pada hari pertama perdagangan.
Pada perdagangan awal setelah libur panjang Lebaran, Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan memiliki peluang untuk bergerak menguat. Namun, sejumlah analis menilai penguatan tersebut kemungkinan masih terbatas karena pasar masih menghadapi berbagai faktor eksternal yang perlu diwaspadai.
Kondisi pasar global, perkembangan ekonomi internasional, serta kebijakan bank sentral dunia menjadi beberapa variabel yang dapat memengaruhi pergerakan indeks saham domestik.
Pergerakan IHSG Menjelang Libur Lebaran
IHSG diperkirakan berpeluang menguat pada perdagangan pertama setelah libur panjang Lebaran, Rabu. Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta mencermati sejumlah sentimen global yang berpotensi menahan laju penguatan.
Pada perdagangan terakhir sebelum libur, Selasa, IHSG tercatat naik sebesar 1,2 persen ke level 7.106,84. Kenaikan ini terjadi seiring mulai membaiknya pasar saham di berbagai kawasan, termasuk Amerika Serikat dan Asia, setelah sebelumnya mengalami tekanan.
Perbaikan sentimen pasar global didukung oleh meredanya tensi geopolitik serta stabilnya harga energi di pasar internasional. Kondisi ini memberikan dorongan positif bagi pasar saham di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, dinamika global masih tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh para investor.
Sentimen Global Masih Membayangi Pergerakan Pasar
Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai kondisi tersebut menjadi sentimen positif awal bagi pasar saham domestik.
Namun, ia memperkirakan penguatan IHSG masih terbatas dan cenderung bergerak dalam fase konsolidasi dengan potensi menguji resistance di kisaran 7.150 hingga 7.200.
Menurut Hendra, risiko eksternal masih perlu diwaspadai oleh para pelaku pasar. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi pergerakan indeks antara lain peningkatan kembali tensi geopolitik, lonjakan harga energi, serta kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat.
Kebijakan moneter dari Federal Reserve yang lebih ketat dari ekspektasi pasar berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar saham global. Jika kondisi tersebut terjadi, IHSG berpotensi kembali melemah hingga menguji level psikologis di kisaran 7.000.
"Level ini menjadi level kunci untuk menjaga tren IHSG tetap berada dalam fase konsolidasi yang sehat," ujarnya.
Sinyal Teknis Mengarah Pada Fase Bottoming
Sementara itu, Founder WH Project William Hartanto melihat IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda mendekati fase bottoming.
Kondisi ini tercermin dari terbentuknya pola doji pada grafik mingguan yang mengindikasikan keseimbangan antara tekanan beli dan jual.
Pola tersebut juga sering diartikan sebagai sinyal bahwa pasar mulai mengalami kondisi jenuh jual setelah periode pelemahan yang cukup panjang.
William menilai level 7.000 saat ini menjadi area support yang cukup kuat bagi pergerakan IHSG. Hal ini terlihat setelah indeks sempat turun hingga menyentuh level 6.917 sebelum kembali bergerak naik.
Meski demikian, sentimen negatif yang membayangi pasar sejak awal tahun masih belum sepenuhnya hilang. Oleh karena itu, tren pelemahan dinilai masih memiliki kemungkinan untuk kembali terjadi.
Untuk perdagangan Rabu, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang support di level 7.085 hingga resistance di kisaran 7.195.
Rentang pergerakan tersebut menunjukkan bahwa indeks masih berada dalam fase konsolidasi sambil menunggu sentimen baru dari pasar global maupun domestik.
Rekomendasi Saham Pilihan Dari Para Analis
Di tengah kondisi pasar yang masih bergerak terbatas, sejumlah analis memberikan rekomendasi saham yang dinilai memiliki potensi menarik untuk dicermati investor.
Hendra Wardana menyarankan strategi trading buy pada saham SRTG dengan target harga Rp1.880 per saham.
Selain itu, ia juga merekomendasikan saham SUPA dengan target harga Rp920 serta saham EMTK dengan target Rp840 per saham.
Sementara untuk strategi speculative buy, Hendra menyarankan saham SCMA dengan target harga Rp320 per saham.
Di sisi lain, William Hartanto juga memberikan beberapa rekomendasi saham yang dinilai memiliki potensi pergerakan positif.
Ia merekomendasikan saham INKP dengan target harga di kisaran Rp10.000 hingga Rp12.000 per saham.
Selain itu, saham ITMG juga menjadi salah satu pilihan dengan target harga Rp30.725 hingga Rp31.000 per saham.
Sementara itu, saham TKIM direkomendasikan dengan target harga di kisaran Rp9.750 hingga Rp10.000 per saham.
Rekomendasi tersebut diberikan dengan mempertimbangkan kondisi teknikal saham serta potensi pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Bagi investor, rekomendasi analis dapat menjadi salah satu referensi dalam menentukan strategi investasi. Namun demikian, setiap keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko serta tujuan keuangan masing-masing investor.
Di tengah dinamika pasar yang masih dipengaruhi berbagai faktor global, kehati-hatian tetap menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi di pasar saham.