JAKARTA - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) terus mengembangkan strategi ekspor furnitur.
Meski terjadi konflik di Timur Tengah, HIMKI tetap optimistis mencari pasar alternatif. Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menekankan peluang Indonesia tetap menjanjikan dibandingkan negara lain.
Fokus pada Pasar Alternatif
Sobur menyebut HIMKI telah menyiapkan strategi untuk memasuki pasar Timur Tengah. “Tetapi mungkin dalam keadaan perang ini, (ekspor) belum memungkinkan. Meskipun begitu, kami optimistis Indonesia menjanjikan yang paling stabil dalam situasi saat ini,” ujarnya. HIMKI pun mengarahkan perhatian pada negara lain yang memiliki potensi tinggi.
Pemerintah mendukung langkah diversifikasi pasar ekspor ini. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menegaskan fokus saat ini pada India dan wilayah Afrika. Strategi ini bertujuan menjaga keberlanjutan ekspor dan mengurangi ketergantungan pada satu kawasan.
Selain itu, HIMKI terus memperkuat jaringan perdagangan internasional. Melalui pendekatan ini, pelaku usaha dapat memanfaatkan peluang yang ada meski kondisi geopolitik global tidak stabil. Langkah ini juga memperluas akses pasar baru bagi industri furnitur domestik.
Nilai Tambah Produk Jadi Prioritas
Putu Juli Ardika menekankan pengembangan produk furnitur berbasis nilai tambah. “Jadi kita mengupayakan agar ekspor furnitur kita tidak hanya berbasis pada volume, tetapi juga pada nilai tambah,” jelasnya. Fokus ini mencakup desain, fitur tambahan, dan inovasi lainnya yang meningkatkan daya saing produk.
HIMKI pun mengintegrasikan kolaborasi dengan desainer internasional untuk menambah kualitas produk. Salah satu contohnya adalah menggandeng desainer dari Spanyol dalam gelaran IFEX 2026. Kolaborasi ini membantu Indonesia belajar standar global dan meningkatkan daya tarik produk di pasar ekspor.
Upaya menekankan nilai tambah juga menciptakan diferensiasi dibandingkan produk furnitur negara lain. Dengan cara ini, industri furnitur Indonesia dapat bersaing secara kompetitif. Produk tidak hanya dijual karena kuantitas, tetapi juga kualitas dan inovasi.
Tantangan Kompetitif Global
Sobur mengakui industri furnitur Indonesia belum sekuat China atau Vietnam. “Kalau kita melawan mereka dengan industrialisasi sepertinya agak sulit. Karena kita harus meniru pola mereka, di mana regulasi sudah tidak lagi menjadi masalah pokok,” jelasnya. Hal ini menjadi salah satu tantangan utama dalam strategi ekspor.
Namun, HIMKI yakin pendekatan kualitas dapat menjadi solusi. Fokus pada desain, inovasi, dan nilai tambah memungkinkan industri furnitur Indonesia bersaing tanpa meniru model industrialisasi negara lain. Strategi ini sekaligus mendorong peningkatan kapasitas produksi dan kreativitas pelaku usaha.
Selain itu, HIMKI terus melakukan riset pasar global. Data dan tren konsumen menjadi acuan agar produk Indonesia relevan dengan kebutuhan internasional. Dengan demikian, ekspor furnitur tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam jangka panjang.
Peran Gelaran IFEX 2026
IFEX 2026 menjadi momentum untuk menampilkan kemampuan produk furnitur Indonesia. Gelaran ini menghubungkan pelaku usaha dengan desainer dan buyer internasional. Sobur menekankan pentingnya ajang ini untuk mengerek standar produk nasional.
Kolaborasi dengan desainer top internasional meningkatkan kualitas desain furnitur. Hal ini juga memperluas peluang ekspor dan membuka wawasan baru bagi industri lokal. Selain itu, IFEX menjadi platform untuk memperkenalkan inovasi, tren, dan strategi pemasaran global.
Dalam ajang ini, HIMKI menyoroti pentingnya ekosistem industri yang inklusif. Semua pelaku usaha, dari UMKM hingga perusahaan besar, diberi ruang untuk menunjukkan produk. Pendekatan ini memperkuat jaringan bisnis sekaligus meningkatkan kepercayaan buyer internasional.
Dampak Ekonomi dan Lapangan Kerja
Sobur optimistis ekspansi industri furnitur mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja. “Kami optimistis industri ini akan tumbuh menjadi industri yang mapan dan bisa memperluas lapangan kerja.
Sekarang ini ada 2,1 juta tenaga kerja. Kalau ekosistem kita meningkat, bisa ada sekitar 2,4 juta tenaga kerja yang terserap di industri ini,” ujarnya. Hal ini menunjukkan potensi pertumbuhan ekonomi dari sektor furnitur.
Selain lapangan kerja, industri furnitur berkontribusi pada devisa negara. Peningkatan ekspor dan nilai tambah produk turut memperkuat posisi Indonesia di pasar global. HIMKI berharap strategi ini memperkuat industri furnitur Indonesia agar lebih mandiri dan berkelanjutan.
Dengan fokus pada pasar alternatif, nilai tambah, dan kolaborasi internasional, HIMKI terus mendorong ekspor furnitur. Meskipun tantangan global masih ada, strategi diversifikasi dan peningkatan kualitas diyakini mampu membawa industri ke level lebih tinggi. Upaya ini diharapkan berkelanjutan dan memberikan manfaat luas bagi pelaku usaha dan masyarakat.