Langkah Impor Bibit Ayam Pertegas Strategi Penguatan Industri Perunggasan

Kamis, 26 Februari 2026 | 10:15:51 WIB
Langkah Impor Bibit Ayam Pertegas Strategi Penguatan Industri Perunggasan

JAKARTA - Rencana impor ayam dari Amerika Serikat dalam kerangka kerja sama dagang dinilai sebagai langkah strategis menjaga kesinambungan industri perunggasan nasional. 

Kebijakan ini ditegaskan tidak akan mengganggu peternak lokal karena menyasar kebutuhan pembibitan, bukan konsumsi langsung. Pelaku industri menilai langkah tersebut justru memperkuat fondasi produksi ayam di dalam negeri.

Penjelasan Soal Skema Impor

Pemerintah berencana mengimpor 580.000 ekor ayam dari Amerika Serikat dalam skema The Agreement on Reciprocal Trade. Kebijakan ini dipandang sebagai bagian dari kebutuhan rutin industri perunggasan untuk menjaga pasokan bibit nasional. Volume impor tersebut diperkirakan bernilai sekitar US$17 juta hingga US$20 juta.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perunggasan Indonesia sekaligus Komisaris Utama dan Komisaris Independen PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk, Antoni J. Supit, menegaskan ayam yang diimpor bukan untuk dikonsumsi masyarakat. 

Ia menyebut impor tersebut berkaitan dengan kebutuhan pembibitan dalam rantai produksi unggas. Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan persepsi publik yang keliru.

“Ini saya perlu klarifikasi. Itu bukan ayam yang seperti yang sehari-hari kita makan. Jadi di industri ayam itu ada namanya Grand Parent Stock (GPS). Itu kakeknya ayam,” ujar Antoni. 

Ia menekankan bahwa jenis ayam yang dimaksud merupakan bagian hulu dari sistem pembibitan modern. Perannya sangat penting dalam menjaga kualitas dan kesinambungan produksi nasional.

Tahapan Produksi dan Proses Panjang

Antoni menjelaskan bahwa Grand Parent Stock akan menghasilkan Parent Stock. Parent Stock tersebut kemudian memproduksi DOC atau day old chick yang dibudidayakan menjadi ayam pedaging maupun petelur. Rantai produksi ini memerlukan waktu panjang sebelum hasilnya dapat dinikmati pasar.

Proses sejak impor GPS hingga menghasilkan ayam konsumsi membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 tahun. Artinya, impor yang dilakukan saat ini tidak berdampak langsung pada pasokan ayam siap konsumsi. Skema tersebut sepenuhnya ditujukan untuk pengembangan budidaya jangka menengah dan panjang.

“Jadi kalau kami impor sekarang tidak langsung kami pakai. Dan itu tidak diimpor untuk dimakan, tapi untuk pengembangan budidaya nanti,” kata Antoni. Pernyataan ini mempertegas bahwa kebijakan impor tidak akan membanjiri pasar ayam konsumsi. Fokusnya adalah memperkuat struktur produksi nasional dari hulu.

Impor Rutin dan Struktur Global

Menurut Antoni, impor GPS dari Amerika Serikat telah berlangsung rutin setiap tahun. Jumlahnya bervariasi tergantung kebutuhan industri dalam negeri pada periode tertentu. Dengan demikian, masuknya skema ART tidak mengubah situasi yang sudah berjalan sebelumnya.

"Selama ini kami memang impor dari Amerika. Ya pernah 580.000, pernah sejuta ekor, itu tergantung kebutuhan. Jadi dengan masuknya di ART itu tidak mengubah situasi,” ujarnya. Penyesuaian volume dilakukan berdasarkan proyeksi permintaan dan kapasitas produksi. Industri berupaya menjaga keseimbangan antara suplai dan kebutuhan pasar.

Ia menilai ketergantungan impor bibit ayam tidak terlepas dari struktur industri global yang terbatas. Perusahaan breeding berskala dunia kini hanya tersisa beberapa grup besar. Kondisi tersebut menjadikan akses terhadap bibit unggul sangat bergantung pada pemain global tertentu.

"Ayam juga begitu, tinggal grup Aviagen dan Cobb. Jadi dari sekian puluh perusahaan breeding, itu sudah pada tutup semua karena ini teknologi tinggi,” katanya. Industri pembibitan unggas membutuhkan teknologi canggih dan riset berkelanjutan. Tidak semua negara mampu mengembangkan sistem tersebut secara mandiri.

Teknologi Tinggi dan Biosecurity Ketat

Pembibitan ayam modern menuntut standar biosecurity yang sangat ketat. Selain itu, riset genetika memerlukan investasi besar dan dukungan teknologi tinggi. Faktor ini membuat pengembangan Grand Parent Stock tidak mudah dilakukan secara independen oleh banyak negara.

Harga GPS pun relatif mahal, berkisar antara US$20 hingga US$30 per ekor. Nilai tersebut mencerminkan kompleksitas teknologi dan penelitian yang terlibat di dalamnya. Karena itu, hanya perusahaan dengan kapasitas teknologi tinggi yang mampu mengelolanya secara optimal.

Dari sisi industri, impor GPS justru menjadi strategi menjaga kualitas dan kesinambungan produksi DOC nasional. Dengan bibit unggul, produktivitas ayam pedaging dan petelur dapat terjaga. Hal ini penting untuk memastikan pasokan protein hewani tetap stabil bagi masyarakat.

Dampak bagi Peternak Lokal

Antoni menegaskan bahwa kebijakan impor GPS tidak merugikan peternak lokal. Sebaliknya, langkah ini memberikan kepastian pasokan DOC untuk kebutuhan budidaya dan komersial di dalam negeri. Kepastian tersebut membantu pelaku usaha merencanakan produksi secara lebih terukur.

"Enggak ada dampak ke peternak lokal, malah dengan ada itu kan peternak lokal mendapat jaminan supply DOC untuk budidaya dan komersial,” ujarnya. Ia menilai keberlanjutan suplai bibit menjadi kunci stabilitas usaha peternakan. Tanpa ketersediaan DOC yang memadai, produksi ayam nasional bisa terganggu.

Sebelumnya, pemerintah menyatakan rencana impor ayam dari Amerika Serikat dalam kerangka ART bertujuan memperkuat industri peternakan domestik. 

Volume yang direncanakan mencapai 580.000 ekor dengan nilai sekitar US$17 juta hingga US$20 juta. Kebijakan ini diharapkan menjaga keberlanjutan rantai produksi unggas nasional sekaligus mendukung ketahanan pangan berbasis protein hewani.

Terkini