Kasus Campak Turun Tajam Berkat Program Imunisasi Kemenkes

Kamis, 26 Maret 2026 | 15:13:46 WIB
Kasus Campak Turun Tajam Berkat Program Imunisasi Kemenkes

JAKARTA - Upaya pemerintah dalam menekan penyebaran penyakit campak menunjukkan hasil yang cukup signifikan pada awal tahun ini.

Kementerian Kesehatan mencatat adanya penurunan besar dalam jumlah suspek maupun kasus campak dalam beberapa minggu terakhir. Perkembangan ini menjadi indikator bahwa langkah pencegahan yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan dampak positif.

Penurunan kasus tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan pemerintah, termasuk penguatan program imunisasi serta peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat. Program tersebut dilakukan secara intensif di berbagai daerah yang sebelumnya mengalami peningkatan kasus campak.

Data terbaru menunjukkan bahwa tren kasus campak secara nasional mulai bergerak turun setelah sempat mengalami lonjakan pada awal tahun 2026.

Penurunan Kasus Campak Secara Bertahap

Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa jumlah kasus campak mengalami penurunan signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Berdasarkan laporan hingga minggu ke-11 tahun 2026, jumlah suspek dan kasus campak menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam dibandingkan dengan awal tahun.

Pada minggu ke-11 tahun 2026 tercatat terdapat 177 suspek dan 121 kasus campak. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondisi pada minggu pertama tahun 2026 yang mencatat 2.740 suspek dan 2.268 kasus campak.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menyampaikan bahwa tren penurunan kasus ini terjadi secara bertahap setelah beberapa minggu pertama tahun 2026.

"Setelah minggu ke-3, tren mingguan menurun bertahap hingga minggu ke-11, di mana jumlah suspek menurun menjadi 177 suspek, dan kasus campak menjadi 121 kasus, menandakan penurunan sekitar 94-95 persen dari puncak minggu ke-1," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman, di Jakarta, Kamis.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa langkah-langkah pengendalian penyakit yang dilakukan pemerintah mulai memberikan hasil yang positif dalam menekan penyebaran campak di masyarakat.

Perkembangan Data Kasus Campak Awal Tahun

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hingga minggu ke-9 tahun 2026 jumlah kasus campak masih cukup tinggi. Pada periode tersebut tercatat sebanyak 8.716 kasus campak dengan jumlah suspek mencapai 10.826 orang.

Pemerintah kemudian memperkuat berbagai langkah pencegahan untuk menekan penyebaran penyakit ini, salah satunya dengan menggencarkan program imunisasi di berbagai daerah.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menjelaskan bahwa pada minggu ke-9 terdapat penambahan sekitar 500 kasus campak.

Ia juga menyebutkan bahwa hingga minggu ke-8 tahun 2026 tercatat sebanyak 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus dan enam kematian. Sementara pada minggu ke-7 tercatat 8.224 kasus suspek campak, dengan 572 kasus yang terkonfirmasi serta empat kematian.

Menurut Andi, penurunan penambahan suspek dan kasus campak yang terjadi pada minggu ke-9 dipengaruhi oleh pelaksanaan imunisasi serta edukasi yang dilakukan secara masif kepada masyarakat.

Sebelumnya ia juga menyampaikan bahwa edukasi mengenai pentingnya pola hidup bersih dan sehat menjadi salah satu faktor penting dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit menular seperti campak.

Wilayah dengan Kejadian Luar Biasa Campak

Meskipun tren kasus secara nasional mulai menurun, Kementerian Kesehatan mencatat masih terdapat sejumlah wilayah yang mengalami kejadian luar biasa atau KLB campak.

Data menunjukkan terdapat 45 kejadian luar biasa campak yang terjadi di 29 kabupaten dan kota pada 11 provinsi di Indonesia. 

Wilayah tersebut meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, serta Sulawesi Tengah.

Andi Saguni menyampaikan bahwa tren mingguan kasus campak di sebagian besar wilayah tersebut menunjukkan penurunan, meskipun masih terdapat beberapa daerah yang mencatat kasus cukup tinggi.

"Tren mingguan kasus campak dan konfirmasi laboratorium di 11 provinsi terdampak KLB tahun 2026, sebagian besar menunjukkan penurunan kasus kecuali Provinsi NTB (Kab. Bima dan Kota Bima) yang masih menunjukkan kasus yang tinggi," katanya.

Beberapa daerah juga tercatat memiliki jumlah suspek dan kasus campak yang cukup tinggi sepanjang tahun 2026. Sepuluh kabupaten dan kota dengan jumlah kasus tertinggi antara lain Tangerang Selatan, Bima, Tangerang, Depok, Jakarta Pusat, Palembang, dan Padang.

Kementerian Kesehatan terus melakukan pemantauan serta langkah intervensi di wilayah-wilayah tersebut guna memastikan penyebaran penyakit dapat segera dikendalikan.

Upaya Percepatan Imunisasi Campak

Dalam upaya menekan penyebaran campak, pemerintah juga mempercepat pelaksanaan berbagai program imunisasi di daerah yang terdampak. Salah satu program yang dilakukan adalah Outbreak Response Immunization atau ORI campak rubela.

Data hingga 12 Maret 2026 menunjukkan bahwa terdapat 22 kabupaten dan kota yang sedang mengalami kejadian luar biasa campak telah melaksanakan ORI MR dengan sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan.

Cakupan imunisasi tertinggi tercatat di Kabupaten Pamekasan dengan persentase 47,93 persen. Selanjutnya disusul Kabupaten Jember dengan cakupan 38,64 persen dan Kabupaten Bima dengan cakupan 22,73 persen.

Selain itu, program Catch Up Immunization atau imunisasi kejar serentak campak rubela juga dilaksanakan di sejumlah wilayah dengan jumlah kasus cukup tinggi. 

Data menunjukkan lima kabupaten dan kota dengan kasus campak tertinggi yang telah melakukan program tersebut antara lain Jakarta Barat dengan cakupan 56,4 persen, Jakarta Pusat 80,4 persen, Depok 17,3 persen, Tangerang Selatan 8,4 persen, serta Palu 5,6 persen.

Pelaksanaan imunisasi tersebut juga didukung oleh berbagai unit pelaksana teknis di bidang kekarantinaan kesehatan. Sebanyak 51 unit pelaksana teknis berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk mendukung layanan imunisasi MR.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan cakupan imunisasi campak dapat mencapai 95 persen dalam waktu dekat sebelum Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.

"Nah hari ini sudah jalan satu minggu. Saya ngeliat hasilnya penetrasinya bagus. Angka pastinya saya belum dapat. Tapi memang kita ngejar ini kalau bisa sebelum Lebaran," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Upaya percepatan imunisasi tersebut diharapkan mampu memperkuat perlindungan masyarakat terhadap penyakit campak serta mencegah terjadinya peningkatan kasus di masa mendatang.

Terkini