Asippindo

Strategi Asippindo untuk Tekan BOPO dan Tingkatkan Laba Industri Penjaminan

Strategi Asippindo untuk Tekan BOPO dan Tingkatkan Laba Industri Penjaminan
Strategi Asippindo untuk Tekan BOPO dan Tingkatkan Laba Industri Penjaminan

JAKARTA - Industri penjaminan Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar terkait peningkatan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang tercatat melonjak tajam pada 2025. 

Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) mengungkapkan bahwa untuk menghadapi tantangan tersebut, perusahaan-perusahaan dalam sektor ini perlu mengimplementasikan berbagai strategi yang dapat menekan BOPO sekaligus meningkatkan laba pada tahun 2026.

Menurut Sekretaris Jenderal Asippindo, Agus Supriadi, salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah dengan memperkuat manajemen risiko dan proses underwriting sejak awal. Hal ini dimaksudkan agar perusahaan penjaminan dapat mengurangi klaim penjaminan yang dapat membebani biaya operasional. 

Dengan mengutamakan pencegahan sejak tahap awal, diharapkan perusahaan dapat meminimalkan kerugian dan memperbaiki efisiensi biaya di masa depan.

Selain itu, Agus juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam proses bisnis, terutama otomasi dalam akseptasi, monitoring, dan klaim yang diyakini dapat membantu menurunkan biaya operasional secara signifikan. 

Penerapan teknologi ini diharapkan bisa mempercepat proses administrasi dan meningkatkan akurasi pengelolaan klaim, sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk kegiatan operasional yang sebelumnya dilakukan secara manual.

Manajemen Risiko dan Underwriting sebagai Prioritas Utama

Untuk menekan angka BOPO, strategi pertama yang perlu diterapkan oleh industri penjaminan adalah penguatan manajemen risiko dan underwriting. 

Menurut Agus, langkah ini penting agar klaim yang diterima oleh perusahaan bisa lebih terkendali, terutama di segmen-segmen yang memiliki risiko tinggi. 

Dengan analisis yang lebih tajam pada underwriting, perusahaan dapat menilai dengan lebih akurat besarnya risiko yang akan dihadapi dan merancang produk penjaminan yang lebih sesuai dengan profil risiko.

“Memperkuat manajemen risiko dan underwriting akan mengurangi klaim yang tidak terkendali. Strategi ini memungkinkan perusahaan untuk menangani risiko dengan lebih baik sejak awal, sehingga tidak ada kerugian besar yang terjadi di kemudian hari,” jelas Agus Supriadi. 

Hal ini diharapkan dapat memperbaiki keseimbangan antara pendapatan dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan, serta meningkatkan rasio laba perusahaan di tahun 2026.

Pentingnya Digitalisasi untuk Efisiensi Biaya Operasional

Digitalisasi menjadi salah satu strategi yang dinilai paling relevan untuk membantu perusahaan penjaminan menekan BOPO. Proses otomasi dalam akseptasi, monitoring, dan klaim asuransi dinilai dapat meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan. 

Dengan memanfaatkan teknologi, perusahaan penjaminan dapat mempercepat proses pengajuan dan pengesahan klaim, mengurangi risiko kesalahan manusia, dan mempercepat waktu pelayanan kepada nasabah.

Agus Supriadi menekankan bahwa penerapan digitalisasi bukan hanya sekadar tentang efisiensi biaya, tetapi juga soal peningkatan pengalaman pelanggan. 

Aplikasi teknologi seperti sistem klaim elektronik dan pemantauan otomatis memungkinkan perusahaan untuk lebih responsif dan transparan dalam pelayanan. Selain itu, otomatisasi ini memungkinkan perusahaan untuk mengurangi biaya operasional yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan administratif manual.

“Penggunaan teknologi untuk mengotomatisasi proses bisnis akan mengurangi biaya operasional, mempercepat pelayanan, dan meningkatkan akurasi pengelolaan klaim. Dengan demikian, perusahaan dapat menghemat biaya sekaligus meningkatkan kepuasan nasabah,” tambah Agus.

Diversifikasi Produk dan Portofolio untuk Pendapatan yang Lebih Seimbang

Langkah lainnya yang perlu diperhatikan oleh industri penjaminan adalah diversifikasi produk dan portofolio. Dalam menghadapi dinamika pasar dan fluktuasi risiko, perusahaan penjaminan perlu memastikan bahwa mereka tidak terlalu bergantung pada satu segmen yang memiliki risiko tinggi. 

Diversifikasi produk akan membantu perusahaan dalam membangun sumber pendapatan yang lebih seimbang dan beragam, sehingga bisa mengurangi ketergantungan pada produk-produk berisiko.

Menurut Agus, diversifikasi ini juga dapat membantu perusahaan dalam menghadapi potensi fluktuasi pasar yang mempengaruhi stabilitas pendapatan. 

Dengan lebih banyak produk yang ditawarkan dan portofolio yang lebih beragam, perusahaan akan lebih siap dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan mampu memberikan produk penjaminan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Sinergi dengan Bank dan Lembaga Keuangan untuk Meningkatkan Volume Penjaminan

Selain mengoptimalkan faktor internal perusahaan, Agus juga menyarankan pentingnya sinergi dengan bank, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan lainnya untuk meningkatkan volume penjaminan. Kolaborasi semacam ini dapat membuka lebih banyak peluang pasar dan memperbesar volume penjaminan yang berkualitas. 

Selain itu, dengan memperluas jaringan dan kemitraan strategis, industri penjaminan bisa mencapai volume bisnis yang lebih besar dan menyebar lebih merata di seluruh segmen pasar.

Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat posisi perusahaan dalam industri penjaminan, serta meningkatkan volume penjaminan yang lebih terjamin kualitasnya.

 Agus berharap, dengan kombinasi strategi internal yang telah disebutkan dan sinergi dengan berbagai pihak eksternal, BOPO industri penjaminan dapat dikendalikan secara berkelanjutan, dan kinerja laba dapat kembali berada di jalur yang positif pada tahun 2026.

Strategi untuk Meningkatkan Kinerja Industri Penjaminan

Meskipun data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa BOPO industri penjaminan melonjak tajam dari 49,08% pada akhir 2024 menjadi 67,73% pada akhir 2025, Asippindo tetap optimis bahwa sektor ini dapat kembali ke jalur yang lebih sehat dengan menerapkan strategi yang tepat. 

Pada 2025, laba industri penjaminan menurun sebesar 27,83% menjadi sekitar Rp 968,24 miliar, dan hal ini menjadi perhatian serius bagi seluruh pelaku industri.

Namun, dengan penerapan strategi yang terencana dan efektif, Asippindo berharap sektor penjaminan dapat mengatasi tekanan tersebut dan mencapai pertumbuhan yang lebih stabil dan berkelanjutan di masa depan. 

Melalui penguatan manajemen risiko, digitalisasi, diversifikasi produk, dan sinergi strategis, diharapkan industri penjaminan dapat mengurangi BOPO dan kembali memperbaiki kinerjanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index